ARTIKEL

Usus buntu

Selasa, 23 Juli 2019
Apendisitis adalah peradangan pada usus buntu, yaitu organ berbentuk tabung yang menonjol dari usus besar, pada sisi kanan bawah perut Anda. Siapa saja dapat menderita radang usus buntu, paling sering terjadi pada orang berusia antara 10 hingga 30 tahun.

Penyebab apendisitis adalah adanya sumbatan (obstruksi) pada saluran (lumen) usus buntu, yang dapat disebabkan oleh hiperplasia limfoid sekunder, infeksi (pada masa kanak dan dewasa muda), timbunan tinja atau fekalit (pada manula), parasit, atau pada kasus yang jarang, akibat benda asing dan keganasan. Penyumbatan tersebut menyebabkan usus buntu meradang, bengkak, dan penuh dengan nanah. Jika tidak segera dilakukan pengobatan, dapat menyebabkan usus buntu pecah (perforasi).

Pasien apendisitis umumnya akan merasakan sakit yang dimulai dari atas pusar, kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Ketika peradangan bertambah parah, maka rasa sakit yang dirasakan akan meningkat. Ketika hamil, rasa sakit itu mungkin berasal dari perut bagian atas karena usus buntu terletak lebih tinggi selama kehamilan. Keluhan lain yang juga dirasakan yaitu mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, dan suhu tubuh yang meningkat.

Untuk menegakkan diagnosis apendisitis, maka tim medis perlu melakukan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah:
1.     Pemeriksaan Fisik
Penderita apendisitis  akan merasakan nyeri ketika dilakukan penekanan (palpasi) pada perut kanan bawah, begitu pula ketika penekanan dilepaskan (rebound tenderness).  Nyeri juga dapat dirasakan jika penderita menekuk lutut ke arah dada, ataupun mendorong tungkai bawah kanan ke arah belakang dalam posisi berbaring ke kiri. Bisis usung biasanya normal, namun bising usus dapat menghilang apabila sudah terjadi infeksi yang meluas ke lapisan dinding perut (peritonitis). Penderita akan merasakan nyeri pada pemeriksaan colok dubur.
2.     Pemeriksaan Penunjang
Hail yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) di atas 10.000mm3. Jika terjadi kenaikan yang sangat tinggi, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

USG (Ultrasonography). Usus buntu yang sehat umumnya tidak memberikan gambaran pada pemeriksaan USG. Namun, pada apendisitis akan tambak struktur tubular dengan diameter 7-9 mm. Pemeriksaan Foto Polos Abdomen akan membantu untuk menegakkan diagnosis peritonitis, degan ditemukannya udara bebas di bawah diafragma.

Penderita yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk ke pelayanan sekunder untuk dilakukan pembedahan. Hal yang harus diperhatikan, yaitu penderita sebaiknya dibaringkan dengan posisi fowler (anti trandelenburg), dipuasakan, pemberian cairan intravena, dan pemasangan pipa nasogastric untuk mengosongkan lambung agar mengurangi tegangan abdomen dan mencegah muntah.   Tujuan terapi adalah untuk menangani infeksi dan mencegah komplikasi. Dengan demikian, antibiotik memiliki peran penting dalam pengobatan apendisitis. Antibiotik efektif dalam mengurangi tingkat infeksi luka pasca operasi dan membantu pemulihan pada pasien dengan kantong nanah (abses) pada usus buntu atau infeksi bakteri dalam darah (septikemia).

The Surgical Infection Society merekomendasikan memulai antibiotik profilaksis sebelum operasi, yaitu kurang dari 24 jam untuk apendisitis nonperforasi dan kurang dari 5 hari untuk apendisitis perforasi.   Apendisitis yang tidak tertangani, dapat menyebabkan usus buntu pecah dan pembentukan kantong nanah (abses), yang dapat berujung dengan peradangan seluruh tubuh (sepsis), apabila tidak ditangani dengan baik.  Usus buntu yang pecah menyebabkan infeksi ke seluruh perut (peritonitis). Tanda peritonitis secara umum adalah nyeri pada seluruh perut, perut teraba keras, suara pekak hati menghilang, dan bisis usus menghilang. Hal ini dapat mengancam jiwa penderita, sehingga perlu segera dilakukan pembedahan untuk memotong usus buntu dan membersihkan rongga perut penderita.


Jika telah terbentuk kantong nanah (abses), maka nanah harus dialirkan (drainase) dan dilakukan pengangkatan usus buntu. Angka kematian setelah dilakukan pembedahan cukup rendah, berkisar antara 0.07% – 0.7% pada kasus tanpa perforasi dan meningkat menjadi 0.5%- 2.4% pada kasus yang disertai perforasi. Komplikasi pasca operasi yang dapat timbul berkisar antara 10 %-19% untuk kasus apendisitis akut tanpa komplikasi, dan mencapai angka 30% pada kasus apendsiitis akut disertai komplikasi.


Sumber bacaan:
  1. Sandy Crag, dkk, 2018. Appendicitis: Medscape
  2. PB IDI. Panduan Praktik Klinis, Edisi 1. 2017: IDI
  3. Massimo Sartelli,dkk. 2018. Prospective Observational Study on acute Appendicitis Worldwide (POSAW): World Journal of Emergency Surgery.