ARTIKEL

Kematian Mendadak: Kelelahan atau henti jantung?

Kamis, 20 Februari 2020
Kematian yang terjadi secara alami dan tidak terduga yang terjadi kurang dari 1 jam sejak timbul gejala awal disebut kematian mendadak. Kematian mendadak sering dihubungkan dengan henti jantung atau akibat kelelahan. Sehingga, untuk menelusuri penyebab kematian mendadak perlu diperhatikan kondisi pasien ketika serangan terjadi, apakah saat beraktivitas atau saat beristirahat.

Penyebab henti jantung bervariasi, risiko ini meningkat pada seseorang yang memiliki kelainan pembuluh darah koroner, infark miokard, kardiomiopati, miokarditis, dan kelainan katup jantung.

Kelainan pembuluh darah koroner
Beberapa orang tidak menyadari bahwa memiliki kelainan pembuluh darah koroner. Pada saat melakukan aktivitas yang terlalu berat, maka pembuluh darah akan terkompresi, sehingga mengalami gangguan perfusi.
Infark Miokard
Jika aliran oksigen berhenti selama kurang lebih 20 menit akan menyebabkan nekrosis miokardium (infark miokard). Didahului nyeri dada, berupa rasa tertekan/berat, dapat menjalar ke bahu, leher, ulu hati, hingga lengan kiri. Terutama dicurigai pada seseorang dengan faktor risiko seperti riwayat yang sama sebelumnya, riwayat penyakit jantung koroner dalam keluarga, hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, dan merokok.
Kardiomiopati
Biasanya terjadi berupa penebalan otot jantung, yang menyebabkan gangguan hantaran listrik jantung, sehingga dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia), seperti ventrikel fibrilasi.
Miokarditis
Merupakan peradangan pada miokardium, sehingga menyebabkan kerja jantung terganggu, baik untuk memompa darah atau pun arus listrik jantung. Hal ini dapat menyebabkan sesak napas, nyeri dada, hingga aritmia.
Kelainan Katup Jantung
Hal ini dapat berujung pada penebalan otot jantung dan gagal jantung, namun perlangsungan hingga menyebabkan henti jantung tidak terjadi secara cepat, bergantung dari progresivitas penyakit.
Kanalopati (Brugada Syndrome, Long QT Syndrome, Short QT Syndrome)
Jantung memiliki pengaturan ion yang berhubungan dengan arus listrik. Arah arus listrik. Arah arus listrik ditentukan berdasarkan gradien elektrokimia ion. Perubahan aksi potensial, sinkronasi, dan penyebaran impuls listrik menjadi faktor predisposisi terjadinya aritmia. Brugada syndrome memiliki kaitan dengan Ventrikel Fibrilasi (penyebab henti jantung mendadak), terutama pada laki-laki muda tanpa kelainan jantung struktural, dapat terjadi pada saat istirahat atau tidur.

Penting untuk senantiasa menjaga kondisi kesehatan Anda. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Olahraga teratur
akukan secara rutin minimal 3 kali seminggu. Jika sebelumnya Anda jarang berolahraga, maka mulailah melakukan olahraga yang ringan dalam minggu pertama, kemudian meningkatkan intensitasnya secara perlahan. Hindari olahraga berlebihan, terutama saat kondisi tubuh sedang tidak fit.

Pola makan sehat
Menjaga asupan makan berupa menu gizi seimbang harus diterapkan. Hal ini juga dapat membantu Anda untuk menghindari risiko kolesterol tinggi, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung. Hindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol.

Istirahat yang cukup
Waktu tidur yang dibutuhkan masing-masing orang bervariasi, namun baiknya berkisar antara 7 – 9 jam. Biasakan untuk beristirahat sejenak di antara aktivitas harian Anda

Pemeriksaan Jantung
Apabila Anda memiliki faktor risiko seperti hipertensi lama, dislipidemia, atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung, sebaiknya Anda juga berkonsultasi sedini mungkin untuk memastikan kondisi kesehatan Anda. Pemeriksaan pertama yang dapat dilakukan yaitu rekam aktivitas listrik jantung (elekktrokardiogram).

Rujukan bacaan:
  1. Ali A Sovari, dkk. 2014. Sudden Cardiac  Death (emedicine.medscape.com/article/151907-overview) : Medscape.
  2. Mayo Clinic Staff. 2019. Sudden Death in Young People: Heart Problems often Blamed (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sudden-cardiac-arrest/in-depth/sudden-death/art-20047571)  : Mayo Clinic.
  3. Perhimpunan Dokter Spesial Kardiovaskuler Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana Sindrom Kkoroner Akut. Jakarta: Centra Communications.
  4. Anna Fernandez Falgueras, dkk. 2017.Cardiac Channelopathies and Sudden Death: Recent Clinical and Genetic Advances: PMC  Wilim, Herick Alvenus, Infan Ketaren. 2019. Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Brugada: Kalbemed.