ARTIKEL

KEJANG DEMAM

Jumat, 20 September 2019
Kejang demam adalah suatu episode kejang yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Kejang demam dapat terjadi pada beberapa anak yang memiliki batas kejang yang lebih rendah dan sedang mengalami infeksi yang menyebabkan suhu tubuh meningkat. Penyebab terjadinya kejang pada anak yang demam saat ini belum diketahui secara pasti.

Kejang demam dibagi menjadi kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah suatu episode kejang yang disertai demam, terjadi selama kurang dari 15 menit di seluruh tubuh dan tidak berulang dalam kurung waktu minimal 24 jam. Sedangkan kejang demam kompleks adalah kejang yang terjadi selama lebih dari 15 menit, hanya terjadi secara lokal dan berulang dalam 24 jam.

Kejang demam kompleks harus ditanggapi dengan sangat serius dengan mempertimbangkan kemungkinan kelainan sistem saraf dan otak.  Kejang demam terjadi pada anak berusia 3 bulan sampai 5 tahun.  Kejang yang terjadi saat anak berusia lebih dari 6 tahun biasanya disebabkan oleh kelainan otak. Pada beberapa kondisi, anak akan memerlukan pengobatan kejang minimal 2 tahun.

Namun, beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa beberapa komponen biokimia tubuh yang bereaksi saat terjadi demam secara langsung juga dapat memicu terjadinya kejang.Walaupun kejang demam merupakan suatu kejadian medis yang memerlukan penanganan khusus. Seorang anak yang mengalami kejang demam harus dipantau selama minimal 1 x 24 jam di rumah sakit. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk menurunkan demam dan mencegah episode kejang berulang. Setelah masa perawatan selesai, orang tua diharapkan untuk mengantisipasi terjadinya kejang di kemudian hari. Anak dengan riwayat kejang demam sebelumnya atau riwayat keluarga memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terkena kejang demam di kemudian hari.

Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan apabila anak mengalami kejang:

  1. Tetap tenang dan kenali kejang. Orang tua diharapkan untuk tidak panik apabila anak mengalami kejang. Orang tua harus bisa membedakan apakah anak sedang mengalami kejang atau tidak. Pada saat kejang, anak tidak sadarkan diri dan terjadi gerakan kejang yang regular.
  2. Hindari memasukkan barang (sendok, pasta gigi, dll) ke dalam mulut. Selain dapat menghambat jalan napas, trauma mulut juga dapat terjadi.
  3. Jika sebelumnya orang tua memiliki riwayat kejang demam saat masih kecil, atau saudara anak ada yang pernah mengalami kejang, orang tua diharapkan untuk menyediakan obat anti kejang di rumah. Obat harus segera dimasukkan sesaat setelah kejang terjadi. Kemudian, segera bawa ke rumah sakit tanpa menunggu kejang selesai.
  4. Orang tua diharapkan mampu mendeskripsikan proses kejang yang terjadi kepada tenaga medis. Berikut komponen kejang yang harus diperhatikan: Apakah anak sadar? Kejang terjadi di seluruh tubuh atau hanya satu sisi/bagian tubuh tertentu? Berapa lama kejang terjadi? Apakah anak langsung sadar setelah kejang atau tidak (tertidur/ngantuk/pingsan)? Apakah ada bagian tubuh yang menjadi biru saat kejang terjadi?  Informasi tersebut sangat membantu tenaga medis untuk memberikan penanganan yang terbaik.
  5. Apabila anak tidak sadarkan diri setelah kejang, perhatikan apakah anak bernapas atau tidak. Jika anda terlatih, anda juga disarankan untuk memeriksa nadi/denyut jantung anak. Pada beberapa kondisi, kejang yang lama dapat menyebabkan henti jantung dan/atau henti napas sehingga dibutuhkan kompresi jantung dan pemberian napas buatan.

Untuk pertanyaan lebih lanjut terkait kejang demam, Silahkan menghubungi tim edukasi kami melalui email: edukasionline@rstrimitra.com.  

Sumber bacaan:
  1. Medscape. Ferbile seizure. Available at: https://emedicine.medscape.com/article/801500-overview.
  2. Fetvei,A. Assessment of febrile seizures in children. Eur J Pediatr (2008) 167:17–27